Jumat, 12 Oktober 2012

Bapak Saya

ini adalah bapak saya. Namanya adalah Nurahman. Beliau adalah tulang punggung keluarga saya. Beliau lahir di Grujugan, 04 Maret 1968. Beliau bekerja sebagai petani dan photographer. Beliau mempunyai watak keras dan mudah marah. golongan bapak saya adalah o. Beliau mempunyai tinggi kira - kira 180 cm dengan berat badan 87 kg. mempunyai kulit berwarna sawo matang.

Dalam hatiku semasa kecil, ayah adalah orang yang bisa membawakan banyak barang pulang ke rumah. Bagi kami, ayah mengandung makna, kami kakak beradik akan mendapatkan banyak permen dan kue untuk dimakan, akan mendapatkan banyak buku cerita dan majalah untuk dibaca.
Ayah bertubuh tinggi, sedikit gemuk, dahinya lebar. Ayah mengandung makna “tersenyum manis” bagi kami, ibu dan anak-anak, itu merupakan semacam kebahagiaan yang sangat sempurna.

Waktu kecil ayah paling senang menggendong saya, katanya mata saya sangat indah. Setelah sekolah ayah selalu berpesan padaku agar senantiasa duduk tegak, membaca buku, menulis, kepala harus diangkat untuk mencegah rabun dekat. Jika mengetahui kebiasaan lama saya kambuh ayah selalu berteriak dan mengikat tubuh saya dengan tali, satu ujung tali berada di tangannya agar jika saya lupa untuk duduk tegak, ayah bisa segera menarik tali tersebut.

Makan pagi penambah gizi, kami bertiga masing-masing akan mendapat satu butir telur rebus, ayah berada di samping sibuk mengupas kulit telur. Setiap malam ayah membantu kami meraut pensil, setelah itu ditata rapi di dalam kotak pensil. Jika saya belajar orgen, ayah akan mengajari aku dengan sungguh - sungguh.

Ayah tidak merokok juga tidak minum minuman keras, tidak memiliki kebiasaan buruk apa pun. Kebanyakan lelaki tidak suka mengurus anak-anak atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang ruwet dan membosankan, tapi ayah saya dengan penuh kesadaran sendiri, proaktif mengerjakan hal-hal tersebut.

Ketika suasana hatinya senang dan baik, ayah mengerjakannya seolah sedang mencicipi maltosa yang manis, ketika suasana hatinya sedang tidak baik, ia akan menganggap dirinya seperti mesin yang sedang beroperasi, semuanya tetap dilakukannya, mencuci piring, mengelap, menyapu, memilih sayuran… sama sekali tidak ada rasa gengsi, selalu rajin dan hemat, sabar tapi serius, teliti dan penuh perhatian, sistematik. Ayah memiliki jiwa pelayanan yang diresapi terhadap istri dan anak-anaknya, dari awal hingga akhir.

1 komentar: